Surabaya, Asatunet.com - Pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025 yang digelar Ditlantas Polda Jawa Timur, resmi berakhir pada Minggu (30/11) setelah berlangsung selama 14 hari sejak Senin (17/11) kemarin. Kegiatan Operasi Zebra Semeru ini, bertujuan agar mendisiplinkan pengguna jalan untuk mengurangi fatalitas laka lantas dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berlalu lintas.
AKBP Septa Firmansyah, Kasubdit Penegakan Hukum (Gakkum) Ditlantas Polda Jawa Timur menyampaikan bahwa, dalam pelaksanaan Operasi Zebra Semeru 2025 untuk jumlah sekitar enam ratus lebih kejadiannya. Diantaranya, korban meninggal dunia (MD) total ada 9 orang, kemudian korban luka berat sekitar 57 orang. Sedangkan, korban luka ringan sebanyak 932 orang. Hingga kerugian material ada sebanyak 792.330.000.
"Kejadian selama Operasi Zebra Semeru telah meningkat 11 persen. Korban MD menurun menjadi 57 persen, sekitar 9 kasus. Luka berat juga menurun 3 persen sekitar 57 kasus. Korban luka ringan meningkat 11 persen," katanya saat dikonfirmasi Asatunet.com, Kamis (4/12/2025).
"Jadi, ada beberapa mengalami peningkatan saat Operasi Zebra Semeru tersebut, tapi untuk fatalitas angka laka lantas di Jawa Timur mengalami penurunan, atau berkurang," sambung AKBP Septa.
Mendominasi laka lantas tahun 2025, roda dua (R2) sekitar 892 kasus, meningkat 8 persen. Roda empat jenis penumpang kini, mengalami penurunan menjadi 66 kasus. Kemudian, jenis mobil barang ada sekitar 135 kasus. Ini turun di angka 2 persen. Kendaraan jenis Bus meningkat 13 kasus. Persentasenya meningkat 160 persen. Bahkan, angka laka lantas dari jajaran Polres mengalami peningkatan. Yakni, Polres Jember dengan angka 48 kasus. Hingga Polres Kediri Kota 34 kasus. Polres Nganjuk juga sama 34 kasus. Kemudian, Polres Gresik 27 kasus, maupun Polres Tulungagung 27 kasus.
"Sedangkan untuk jajaran Satlantas Polrestabes Surabaya dan Satlantas Polresta Sidoarjo kini angka laka lantas berkurang menurun," paparnya AKBP Septa.
Didominasi fatalitas angka laka lantas mengalami meninggal dunia (MD) antara lain, Polres Bangkalan Madura, Polres Situbondo, Polres Mojokerto, Polres Ponorogo, dan Polresta Banyuwangi.
"Ada berapa banyak jumlah kejadian dan korban meninggal dunia di jajaran Polres tersebut," ujarnya.
Lebih lanjut AKBP Septa Firmansyah memaparkan, selama dilaksanakan Operasi Zebra Semeru ini, jumlah pelanggaran lalu lintas sanksi tilang ETLE statis mengalami peningkatan. Tahun 2025 ini, ada sebanyak 29.158 pelanggar tilang ETLE statis. Itu meningkat 3.206 persen.
"Kita di intruksikan oleh Dirlantas Polda Jawa Timur Kombes Iwan Saktiadi, untuk mengedepankan penindakan ETLE statis, bukan halnya tilang manual," jelasnya.
Untuk tilang mobile, dikatakan kembali, juga signifikan meningkat. Totalnya ada 56.908 sanksi pelanggar dikenakan tilang mobile atau 180 persen, dibandingkan tahun sebelumnya 20.310 pelanggar tilang mobile.
"Penindakan tilang manual menurun. Dari 83.932 pelanggar, menjadi 2.285 pelanggar dikenakan sanksi tilang manual," ungkap dia.
Kembali AKBP Septa menyebutkan, turut meningkat ada sekitar jutaan lebih teguran kepada pengguna jalan ketika melakukan pelanggaran lalu lintas.
"Sebelumnya, hanya ribuan pengguna jalan kita berikan teguran, kini ada sekitar satu juta lebih teguran. Jadi meningkat tajam. Mendominasi pelanggar tidak pakai helem, kita tegur sekali, dua kali teguran, dan kalau sampai mengulang lagi kita sanksi tilang," ungkapnya.
Aksi balap liar menjadi target sasaran selama Operasi Zebra Semeru 2025. Bahkan mengalami peningkatan cukup banyak. Ia menambahkan, ada sekitar 6.269 kasus balap liar. Dibanding sebelumnya 933 kasus balap liar.
"Ada tren nya meningkat jadi 572 persen di angka kasus tersebut. Kita tetap berlakukan penindakan humanis, jika kendaraan bermotor (ranmor) itu balap liar tidak dilengkapi surat-surat tetap kita berikan sanksi tilang," pungkas AKBP Septa.
Bantu kami dengan membagikan berita ini melalui :









